“Ramadhan Untuk Misi Kemanusiaan, Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi”

kerja bakti

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sakral bagi umat Islam. Selain momentumnya yang hanya sekali dalam setahun, dalam bulan suci ini banyak kegiatan dan ritus-rituskeagamaan yang sayang apabila dilewatkan. Allah juga mengkhususkan bulan ini untuk meningkatkan intensitas beribadah serta ganjaran pahala berlipat bagi hambanya yang sungguh-sungguh.

Al-Qur’an telah menegaskan dalam surat al-Baqarah ayat 183 tentang keutamaan puasa di bulan Ramadhan. Kita diwajibkan berpuasa, seperti kaum (orang-orang) sebelumnya, supaya kita bertaqwa. Jadi, ritual berpuasa ini juga sudah ada sejak zaman sebelum Rasulullah SAW, namun disempurnakan dan dikukuhkan pada zaman beliau.

Definisi “menahan” dalam puasa adalah menahan segala hawa nafsu yang biasa kita lakukan sehari-hari seperti menahan nafsu makan, menahan amarah, menahan syahwat, dan nafsu-nafsu manusiawi lainnya. Di Indonesia, setiap bulan ramadhan selalu ada tradisi tersendiri yang menjadi kearifan lokal. Ada kegiatan buka puasa bersama (bukber), safari tarawih, pesantren kilat, khataman qur’an, maraknya penjualan atribut keagamaan, pasar ta’jil, sampai tradisi mudik menjelang lebaran.

Berbagai macam hal dilakukan orang Indonesia dalam menyambut kehadiran bulan puasa. Umat Islam menyambut dengan suka cita dan giroh yang menggebu-gebu. Semangat “marhaban ya ramadhan” berkumandang seantero jagat.

Begitu semangatnya menyambut bulan Ramadhan hingga mereka termotivasi melakukan tindakan sweeping terhadap tempat-tempat yang dianggap mengganggu kekhusyukan ibadah di bulan suci ini. Namun, sesungguhnya sambutan manis itu akan terkesan sekedar formalitas ketika diucapkan sebatas pemanis tanpa adanya penghayatan substansial dari bulan yang memang penuh berkah tersebut.[1]

Selepas dari tradisi yang menjadi rutinitas tahunan yan menghiasi bulan suci ini, ada hal yang sering terlupakan bahwasannya esensi utama dari puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekedar menahan haus-lapar satu bulan penuh, berlomba-lomba khataman Qur’an, sampai parade mudik yang selalu membuat lengang Jakarta namun sesak di desa. Nilai-nilai substansif dari puasa itu sendiri adalah bagaimana implementasi dari keshalihan individu dipadukan dengan keshalihan sosial guna meningkatkan kesejahteraan komunal. Di satu sisi kita meningkatkan intensitas ibadah vertikal kepada Allah, di sisi lain kepekaan terhadap keadaan sekeliling kita yaitu lingkungan sosio-geografis harus ditingkatkan juga. Karena sudah seharusnya nilai-nilai ajaran Islam itu membebaskan kaum-kaum tertindas (mustad’afin) dan menegakkan keadilan.

Menegakkan keadilan mencakup penguasaan atas keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan pribadi yang tak mengenal batas (hawa nafsu).[2] Dengan mengendalikan kehendak nafsu tersebut serta menyadari bahwa ada hak orang lain dalam harta yang kita miliki, tentu saja dengan prinsip zakat dan sedekah maka harta tersebut akan dialokasikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan begitu penumpukan kekayaan individual dapat dibatasi dan kesenjangan kesejahteraan dapat diminimalisir.

Bulan Ramadhan yang selama ini kita yakini sebagai sarana pendekatan kepada Tuhan yang merupakan implikasi Tauhid akan gagal memenuhu fungsinya, manakala orang yang berpuasa tidak peduli dengan penderitaan sesama anak bangsa, karena konsep puasa seperti itu adalah pemahaman konsep keberagamaan yang terpecah, karena yang berpuasa terlalu sibuk dengan keshalihan priadi, sehingga menjadi absen dalam mengurusi persoalan kemanusiaan.[3] Sangat disayangkan jika setelah bulan puasa tidak ada perubahan yang lebih baik secara kuantitas dan kualitas terhadap kesejahteraan bangsa.

Sebagai orang yang beriman, implementasi dari substansi ramadhan harus mempunyai dampak yang real. Karena selain rutual keagamaan, ajaran Islam itu adalah cakupan tata nilai kehidupan. Dengan sikap istiqomah, serta menjalankan ramadhan sebagai ibadah bernuansa transformatif. Yang kikir akan menjadi dermawan, yang tidak terpuji menjadi terpuji, mengubah yang sombong menjadi ramah. Apabila umat Islam sudah bisa memahami dan mengamalkan konsep sosial dari puasa tersebut, maka tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT

[1] Sudarto, Wacana Islam Progresif (Jogjakarta: IRCiSoD, 2014)

[2] Basic Training HMI Cabang Ciputat, hlm. 236

[3] Sudarto, Wacana Islam Progresif (Jogjakarta: IRCiSoD, 2014)

Ramadhan Untuk Misi Kemanusiaan

Advertisements

One thought on ““Ramadhan Untuk Misi Kemanusiaan, Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi”

  1. Keren bermanfaat nih buat nambah wawasan…
    Juga buat mengingatkan kita untuk memahami konsep sosial di bulan puasa terutama amarah, dan hawa nafsu…

    Pesan: Teruslah berkarya gan… Tulisanmu akan mempengaruhi orang lain.😁😇

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s