[Masih] Menegakkan Pancasila di Tengah Prahara

 

image-bagaimana-proses-perumusan-pancasila-terjadi-
Oleh: Richad Indra Cahya

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia telah menunjukkan betapa penting peran dan fungsi ideologi Pancasila bagi kelestarian hidup serta kesinambungan upaya bangsa mencapai cita-cita masyarakat adil makmur. Berbagai ancaman, baik dari luar terutama yang dialami pada perang kemerdekaan melawan kolonialisme, maupun ancaman dari dalam menghadapi berbagai pemberontakan dapat diatasi dengan daya upaya dan berpegang teguh pada pancasila.

Pancasila telah melewati beberapa dekade. Dari jaman orde lama, orde baru, sampai reformasi hingga sekarang Pancasila melewati dinamika yang pelik. Pada jaman orde lama, Pancasila diuji ketahanan dan kekuatannya sebagai ideologi bangsa. Bahkan perseteruan yang keras antara kelompok komunis dengan agamis, antara ABRI dengan PKI, antara HMI dan CGMI (Consentrasi Gerkan Mahasiswa Indonesia) yang merupakan underbouw PKI. Terjadi perpecahan dua kubu besar di Indonesia pada saat itu. Soekarno dengan konsep Nasakom-nya menegaskan bahwa organisasi apa pun apabila anti revolusi akan dibubarkan. Singkat cerita pada tahun 1965, usaha untuk mengkomuniskan Indonesia seperti yang dicetustkan Manifest Moskwa 19 November 1957 harus terkubur. PKI kalah, lalu jayalah Pancasila sebagai pemenang.

Pasca orde lama, lahirlah orde baru dengan sistem yang baru juga. Pada masa kepemimpinan Soeharto ini pembangunan terbilang cukup pesat. Namun, kecenderungan otoriter dan doktrin Pancasila yang tidak bebas tafsir membuat pemerintah menjadi “the ultimate power”. Sekitar 30 tahun lebih kekuasaan orde baru menjadi kekuatan mutlak di Indonesia. Sampai pada akhirnya orde baru harus runtuh pada tahun 1998 dengan krisis yang menyengsarakan rakyat.

“Indonesia baru tanpa orba”, begitulah gegap gempitanya rakyat Indonesia yang terbebas dari tiran orba serta reformasi yang menjadi cerita baru bangsa ini. Sayang sekali, tidak ada perkembangan yang signifikan yang terjadi pada era reformasi hingga saat ini. Demokrasi yang cenderung liberal ini menghasilkan bonus demografi yang melempem akan kualitas masyarakatnya. Bahkan lebih miris lagi, melempem dalam penghayatan dan pengamalan Pancasila. Kini, Pancasila hanya sebatas teks yang dibaca saat upacara bendera. Pancasila hanya dijadikan jargon dan klaim bagi kubu yang berkempentingan dalam kontestasi poloitik. Pancasila dijadikan alasan untuk mendobrak ruang-ruang privat agama dan ras seolah-olah semua “sama”. Hanya segelintir masyarakat yang masih sadar akan Pancasila sebagai nilai luhur.

Permasalahan kontekstual ini harus menjadi refleksi segenap bangsa Indonesia. Dalam membahas ideologi Pancasila, harus dikemukakan pengertian, fungsi, dan hubungan antara filsafat dan ideologi. Filsafat dan ideologi didudukkan pada posisi masing-masing secara clear and distinct (jelas dan pilah). Menurut Allan R. Drengson, ada tiga pengertian filsafat: filsafat sebagai falsafah atau pandangan hidup yang disebut sebagai filsafat non eksplisit; filsafat sebagai ilmu filsafat yang disebut sebagai filsafat sistematis; dan filsafat kritis atau kreatif. Filsafat kritis ini sekaligus berfungsi sebagai ideologi. Dengan sepintas menelusuri hal-hal yang yang bersangkutan dengan filsafat dan ideologi, akan lebih mudah untuk memahami ideologi Pancasila.

Menghadapi permasalahan kontemporer di era globalisasi seperti ini tentu kita harus mengerti sifat-sifat Pancasila supaya tidak salah kaprah dalam menerima kultur-kultur baru serta menyaring ideologi yang berkembang. Pancasila sebagai ideologi yang inklusif memiliki tiga sifat yaitu hamot, hamong, dan hamemangkat. Hamot artinya menerima dan mewadahi, hamong artinya menyaring dan memelihara, sedangkan hamemangkat maksudnya mampu meningkatkan derajat nilai-nilai itu agar bermanfaat. Ideologi Pancasila dengan memiliki tiga sifat tersebut akan mampu menjawab semua tantangan yang dihadapi sepanjang waktu.

Dengan sebuah refleksi, di hari yang bersejarah ini, semoga semangat para leluhur bangsa bisa diimplementasikan sebagai nilai-nilai dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada lagi rakyat yang sengsara, tidak ada lagi kesenjangan antara si miskin dan si kaya, tidak adalagi anak muda yang tidak tahu Pancasila. Bangun lagi semangat yang telah luntur. Perjuangkan Pancasila. Tegakkan terus, walaupun di tengah Prahara!

“Trimakasih, BUNG”

 

Ciputat, 1 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s